Skip to main content

Posts

Aku Rindu akan Tuhan (PS 423) - #Fingerstyle Guitar Cover | Edit Marselius Ringan

Silakan klik link di bawah ini untuk menonton penampilan saya dalam memainkan lagu "Aku Rindu akan Tuhan" dengan gitar: Aku Rindu akan Tuhan (PS 423) - #Fingerstyle Guitar Cover | Edit Marselius Ringan
Recent posts
  Ditya Musik Course     Metode Pelajaran: Dalam proses belajar setiap siswa mendapatkan materi dan dipraktekkan pada keyboard yang sudah disiapkan untuk masing-masing siswa. Kunci keberhasilan dari kursus ini adalah sedapat mungkin meluangkan waktu untuk latihan pribadi baik di rumah /gereja maupun di tempat kursus (di luar jam kursus) paling kurang 20 menit sehari. Dalam ketekunan itu siswa akan terbiasa dengan papan tuts dan akan mempermudah/ mempercepat siswa dalam memahami musik. Proses latihan rutin ini akan menjadi suatu pembiasaan bagi siswa baik dalam penjarian maupun dalam melatih perasaan terhadap musik . Guru kursus berfungsi sebagai instruktur yang mendampingi dan mengarahkan. Ditya Music Course memberikan materi latihan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Maka dari itu pelajaran musik dibagi dalam tiga tahapan:  -           Tingkat Dasar -       ...

Falsetto Smakam Choir (FSC)

Kini telah hadir paduan suara muda beranggotakan anak-anak remaja dari SMA Katolik Makale dengan jumlah anggota 25 orang (1 conduktor, 9 sopran, 5 alto, 4 tenor dan 5 bas). Paduan suara ini memakai nama "Falsetto Smakam Choir" (FSC). Secara etimologis kata "falsetto" sendiri merupakan nama dari teknik vokal yang berada di area head voice tetapi dibunyikan dengan cara halus dan lembut. Karena teknik bernyanyi  falsetto merupakan teknik andalan kelompok muda ini akhirnya dipakailah dia untuk menamakan paduan suara yang bersarang di SMA Katolik Makale. Berdirinya FSC tidak lepas dari beberapa faktor: pertama, pemikiran dari kepala sekolah (Ignasius Pabendon, Pr) untuk melaksanakan pendidikan berkarakter bagi siswa/i dengan cara melayani misa umat setiap minggu ke-empat di Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Makale. Kedua, adanya kegiatan lomba cipta lagu Mars Anti Narkoba yang diselenggarakan oleh BNN yang kemudian telah mengumpulkan beberapa siswa/...

budaya suku toraja

i n a y t s i l u S h a d n I Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat. Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja. Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari’allo arti harfiahnya adalah “Negr...

Doa Sebelum Makan

  Hahahahahaha........... lucunya....!!!

Musik bagian dari Hidup

Musik tidak terlepas dari kehidupan manusia. Setiap langkah hidup manusia selalu diiringi dengan musik. Bahkan sejak manusia berada di dalam kandungan ibunya mereka sudah diperkenalkan dengan iringan musik detak jantung ibunya. Mengapa demikian? Musik sangat mempengaruhi kita secara psikologis dan dapat mengubah suasana batin kita. Musik jenis tertentu akan mewarnai kehidupan kita, begitu pula batin. Musik bisa membawa kita ke dalam suasana hidup yang lain, misalnya sedang sedih musik bisa menjadi penghibur atau malah sebaliknya menimbulkan perasaan jengkel dan menjadi beban pikiran, atau pada saat kita berdoa dengan khusuk yang diiringi dengan instrumental musik yang berbunyi anggun akan membuat kita lebih hikmat dalam berdoa.

Sejarah Stasi Santo Fransiskus Asisi - Bukit Asri

Stasi ini dimulai pada tahun 1995 sejak penduduk transmigrasi tiba di lokasi ini (UPT To’dangan) tepatnya pada tanggal 19 Desember. Pada waktu itu daerah ini masih sangat terpencil dan sulit untuk dijangkau dengan kendaraan karena jalannya belum baik serta berlubang-lubang. Suasana daerah ini sangat sunyi karena masih banyak pohon-pohon dan hutan di sekitarnya. Selain itu, listrik/PLN juga belum ada (bahkan sampai sekarang) , dan jaringan telpon tidak bisa diakses. Umat Katolik transmigrasi kebanyakan dari warga NTT khususnya Maumere.