gambar 1: Tampak depan
Katolik = 49 kk
Protestan = 10 kk
Islam = 2 kk
Setelah mengadakan perbandingan agama antara Katolik dan Protestan ternyata Katolik lebih banyak daripada umat Protestan. Akhirnya mereka melaporkannya kepada pemerintah dan gereja itu dipakai oleh umat Katolik untuk beribadat.
1. Dominikus Rebim
2. Vernemus Pare
3. Stefanus
4. Urbanus Untung
5. Ade Nong Sareng
6. Ir. Raru Dominikus
Untuk saat ini, dan karena berada dalam perjalanan waktu, gedung gereja Stasi Sto. Fransiskus Wakuli telah termakan usia. Sebagian dari bangunannya sudah lapuk karena dimakan rayap. Akhirnya, dalam masa periode Pastor Marthinus Mattani sebagai pastor paroki Baubau, ada kerinduan untuk mendirikan rumah ibadat yang layak untuk ditempati. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat sertifikat tanah gereja. Perlu kita ketahui bahwa asal usul tanah ini sebenarnya diperoleh sebagai tanah hibah dari departemen trsanmigrasi Buton, kemudian disertifikatkan dengan hak milik Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Baubau. Diatas tanah yang telah bersertifikat itu sedang dibangun gereja permanen. Tanah sisanya untuk perkebunan/pertanian. Setelah sertifikat tanah gereja ada akhirnya dimulailah memperjuangkan izin membangun gedung gereja di tanah tersebut.
gambar 2: Lokasi untuk pembangunan
gedung gereja yang baru
gedung gereja yang baru
· Bupati Buton (Ir. H. LM Syafei Kahar)
· Komandan KODIM Buton (Letkol. Inf. Uneng Sudargo, SH.)
· Vikep Sultra (P. Mateus Bakolu, Pr.)
· Pastor Paroki Sto. Paulus Baubau (P. Marthinus Mattani, Pr.)
· Anggota DPRD Buton (Hjh. Wa Ode Nurmia)
· Kakan DEPAG Buton (Hj. La Ode Muirun)
· Ketua Panitia Pembangunan (Iwan Susanto, SH.)
Turut menyaksikan oleh banyak orang diantaranya Camat dan staf kecamatan Kapontori, Kepala Desa dan staf Desa Bukit Asri, Tokoh-tokoh agama dan masyarakat Desa Bukit Asri, dan sebagian umat dari Baubau serta seluruh umat stasi Wakuli..
gambar 3 Tampak samping gambar 4 : Latihan koor umat
stasi Wakuli di dalam
gedung gereja yang
kini sudah lapuk
dimakan rayap.
stasi Wakuli di dalam
gedung gereja yang
kini sudah lapuk
dimakan rayap.
nice info gan..
ReplyDeletesaya pernah lewat di tempat itu di desa wakuli
saya anak transmigran yg dulu masa kecil saya, saya habiskan di bumi wakuli( saya sering maen malahan disekitaran gereja katholik tersebut waktu kecil)..
saya anak kristen juga berjuang dalam keterbatasan fasilitas di daerah tersebut yaitu.. tempat orang tua saya tinggal di desa wakuli trans blok jawa. dengan keterbatasan saya berjuang hingga akhirnya saya bisa kuliah di surabaya
di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Puji Tuhan.. dan saya tidak akan pernah lupa dengan perjuangan masyarakat katholik maupun protestan di daerah tersebut. Tuhan Yesus Memberkati.