Skip to main content

Sejarah Stasi Santo Fransiskus Asisi - Bukit Asri

Stasi ini dimulai pada tahun 1995 sejak penduduk transmigrasi tiba di lokasi ini (UPT To’dangan) tepatnya pada tanggal 19 Desember. Pada waktu itu daerah ini masih sangat terpencil dan sulit untuk dijangkau dengan kendaraan karena jalannya belum baik serta berlubang-lubang. Suasana daerah ini sangat sunyi karena masih banyak pohon-pohon dan hutan di sekitarnya. Selain itu, listrik/PLN juga belum ada (bahkan sampai sekarang), dan jaringan telpon tidak bisa diakses. Umat Katolik transmigrasi kebanyakan dari warga NTT khususnya Maumere.



Awal mulanya, tempat beribadat umat Katolik pada hari Minggu bukan di gedung gereja melainkan di rumah-rumah umat dan berpindah-pindah tempat. Kadangkalah juga di bekas gedung transmigrasi atau di aula desa. Pada 24 Desember 1995 merupakan malam Natal pertama, dirayakan sangat sederhana di salah satu rumah umat. Mereka merayakan Natal tanpa pastor dan hanya dipimpin oleh salah seorang dari umat yang mungkin sudah mengerti tentang liturgi.
         Memang pada saat itu sudah ada gedung gereja tetapi masih dalam proses pembangunan. Selain itu, gedung gereja tersebut belum jelas, apakah untuk warga trans yang beragama Katolik atau Protestan. Dari informasi yang ada, ternyata gedung gereja itu untuk umat yang beragama Kristen (termasuk Katolik). Artinya, bukan untuk satu agama Kristen saja tetapi yang masuk golongan agama kristiani disatukan rumah ibadatnya. Pada saat itu pemerintah transmigrasi belum mengetahui perbedaan agama-agama Kristiani yang mungkin berpendapat bahwa Katolik dan Protestan sama.
  gambar 1: Tampak depan
Dalam perjalan waktu akhirnya gedung gereja yang sementara dibangun itu menjadi milik umat Katolik. Ada 2 orang bapak yang telah berjuang sehingga gedung gereja tersebut diberikan oleh pemerintah transmigrasi kepada warga NTT beragama Katolik, yaitu Amandus dan Fransiskus Sikka’. Mereka melakukan pendataan agama kepada warga NTT dan diperoleh hasil data sebagai berikut:
            Katolik            =  49 kk
            Protestan         =  10 kk
            Islam               =  2 kk 
Setelah mengadakan perbandingan agama antara Katolik dan Protestan ternyata Katolik lebih banyak daripada umat Protestan. Akhirnya mereka melaporkannya kepada pemerintah dan gereja itu dipakai oleh umat Katolik untuk beribadat.
Tahun 1997 pada kunjungannya yang pertama ke stasi ini, Mgr. Yohanes Liku Ada’ selaku uskup di Keuskupan Agung Makassar meresmikan stasi dan gedung gereja sebagai tempat beribadat bagi umat Katolik Stasi To’ Danga.
 Tahun 2000 uskup kembali berkunjung ke stasi ini. Pada kunjungan yang kedua ini langsung dirangkaikan dengan penerimaan Sakramen Krisma oleh Bapak Uskup sendiri.
Sebelum tahun 1995 sebenarnya sudah ada umat Katolik yang menetap tidak jauh dari daerah tersebut. Dia juga dari suku NTT Manggarai. Beliau adalah seorang Insinyur pertanian yang juga banyak berjasa dalam sejarah Stasi ini. Beliau adalah Ir. Dominikus Raru (sekarang menjabat sebagai ketua stasi periode 2010-2012). Ir. Dominkus Raru tiba di Desa Waondo Wolio (yang berjarak 7 km dari Desa Bukit Asri) bersama dengan keluarganya pada tahun 1992. Ada sesuatu yang istimewa dari bapak ini, yaitu dia seorang kepala desa dimana desa tersebut penduduknya 100% Muslim. Selain itu, dia juga bergerak dibidang pendidikan dan telah merintis beberapa sekolah di kecamatan tersebut khususnya di Wakuli dan di desanya sendiri.
Dalam kepengurusan stasi, sudah ada 6 periode kepengurusan dan berikut adalah daftar nama-nama yang pernah menjabat sebagai ketua stasi Sto Fransiskus – Wakuli:
         1. Dominikus Rebim
         2. Vernemus Pare
         3. Stefanus
         4. Urbanus Untung
         5. Ade Nong Sareng
         6. Ir. Raru Dominikus

Untuk saat ini, dan karena berada dalam perjalanan waktu, gedung gereja Stasi Sto. Fransiskus Wakuli telah termakan usia. Sebagian dari bangunannya sudah lapuk karena dimakan rayap. Akhirnya, dalam masa periode Pastor Marthinus Mattani sebagai pastor paroki Baubau, ada kerinduan untuk mendirikan rumah ibadat yang layak untuk ditempati. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat sertifikat tanah gereja. Perlu kita ketahui bahwa asal usul tanah ini sebenarnya diperoleh sebagai tanah hibah dari departemen trsanmigrasi Buton, kemudian disertifikatkan dengan hak milik Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Baubau. Diatas tanah yang telah bersertifikat itu sedang dibangun gereja permanen. Tanah sisanya untuk perkebunan/pertanian. Setelah sertifikat tanah gereja ada akhirnya dimulailah memperjuangkan izin membangun gedung gereja di tanah tersebut.
 Usaha untuk mendapatkan IMB menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan kesabaran (permohonan diajukan dari tanggal 8 Oktober 2009 dan baru keluar tanggal 7 Maret 2011 tetapi baru diterima tanggal 24 April 2011). Berbagai cara telah dilakukan untuk mendapatkan IMB, dan akhirnya dengan melalui jalur politik, izin membangun gereja dikeluarkan pada tanggal 24 April 2011 pertepatan dengan hari Sabtu Paskah. Perlu kita ketahui, untuk mendapatkan izin membangun tersebut sangat sulit, tetapi melalui perjuangan pastor paroki Santo Paulus - Baubau (P. Martinus Mattani, Pr) dengan cara pendekatan dengan salah satu kandidat calon Bupati Buton telah berhasil memperjuangkan IMB tersebut.

  gambar 2: Lokasi untuk pembangunan
                     gedung gereja yang baru
Pada tanggal 6 Mei 2011 dibentuklah panitia pembangunan. Kegiatan pembangunan dimulai dengan peletakan batu pertama tanggal 15 Mei 2011. Yang meletakkan batu pertama adalah :
·         Bupati Buton (Ir. H. LM Syafei Kahar)
·         Komandan KODIM Buton (Letkol. Inf. Uneng Sudargo, SH.)
·         Vikep Sultra (P. Mateus Bakolu, Pr.)
·         Pastor Paroki Sto. Paulus Baubau (P. Marthinus Mattani, Pr.)
·         Anggota DPRD Buton (Hjh. Wa Ode Nurmia)
·         Kakan DEPAG Buton (Hj. La Ode Muirun)
·         Ketua Panitia Pembangunan (Iwan Susanto, SH.)
Turut menyaksikan oleh banyak orang diantaranya Camat dan staf kecamatan Kapontori, Kepala Desa dan staf Desa Bukit Asri, Tokoh-tokoh agama dan masyarakat Desa Bukit Asri, dan sebagian umat dari Baubau serta seluruh umat stasi Wakuli..
gambar 3 Tampak samping                                                                                                                                                                                                                                                                         gambar 4 : Latihan koor umat
                                                                                                                                                                                  stasi  Wakuli di dalam 
                                                                                                                                                                                 gedung gereja yang 
                                                                                                                                                                                 kini sudah lapuk 
                                                                                                                                                                                dimakan rayap.







 gambar 5: tampak dari sudut

Comments

  1. nice info gan..
    saya pernah lewat di tempat itu di desa wakuli
    saya anak transmigran yg dulu masa kecil saya, saya habiskan di bumi wakuli( saya sering maen malahan disekitaran gereja katholik tersebut waktu kecil)..
    saya anak kristen juga berjuang dalam keterbatasan fasilitas di daerah tersebut yaitu.. tempat orang tua saya tinggal di desa wakuli trans blok jawa. dengan keterbatasan saya berjuang hingga akhirnya saya bisa kuliah di surabaya
    di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Puji Tuhan.. dan saya tidak akan pernah lupa dengan perjuangan masyarakat katholik maupun protestan di daerah tersebut. Tuhan Yesus Memberkati.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Falsetto Smakam Choir (FSC)

Kini telah hadir paduan suara muda beranggotakan anak-anak remaja dari SMA Katolik Makale dengan jumlah anggota 25 orang (1 conduktor, 9 sopran, 5 alto, 4 tenor dan 5 bas). Paduan suara ini memakai nama "Falsetto Smakam Choir" (FSC). Secara etimologis kata "falsetto" sendiri merupakan nama dari teknik vokal yang berada di area head voice tetapi dibunyikan dengan cara halus dan lembut. Karena teknik bernyanyi  falsetto merupakan teknik andalan kelompok muda ini akhirnya dipakailah dia untuk menamakan paduan suara yang bersarang di SMA Katolik Makale. Berdirinya FSC tidak lepas dari beberapa faktor: pertama, pemikiran dari kepala sekolah (Ignasius Pabendon, Pr) untuk melaksanakan pendidikan berkarakter bagi siswa/i dengan cara melayani misa umat setiap minggu ke-empat di Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Makale. Kedua, adanya kegiatan lomba cipta lagu Mars Anti Narkoba yang diselenggarakan oleh BNN yang kemudian telah mengumpulkan beberapa siswa/...

Ternyata mebaca notasi angka itu mudah

Sebenarnya notasi angka diciptakan khusus untuk bina vokal karena lebih mudah dipahami dari pada notasi balok yang sangat sulit dipahami oleh kebanyakan orang. Untuk notasi balok perlu latihan khusus agar bisa memahami bunyi yang dilambangkan oleh masing-masing not. Maka dari itu, kebanyakan dari buku nyanyia umat Kristiani (Katolik, Protestan, Pantekosta, dsb.) dalam buku nyanyian yang digunakan semuanya memakai notasi angka. Contoh buku nyanyian umat Katolik yang memakai notasi angka: mis. Puji Syukur, Madah Bakti, Sulo Lalan, Singgi'na Mali', Madah Kasih, Jubilate, Exultet, Kidung Syukur, dsb. (Edith Marcellus Ringan)

A. Angka-Angka dalam Notasi Angka

Notasi musik ini menggunakan angka-angka untuk menunjukkan tinggi atau rendah dari bunyi suatu nada yang disimbolkan. Berawal dari angka 1 hingga angka 7 yang menunjujukkan simbol dari nada rendah ke nada tinggi. Jadi, angka-angka yang digunakan adalah:   1,  2,  3,  4,  5,  6, dan 7.