Skip to main content

Musik bagian dari Hidup

Musik tidak terlepas dari kehidupan manusia. Setiap langkah hidup manusia selalu diiringi dengan musik. Bahkan sejak manusia berada di dalam kandungan ibunya mereka sudah diperkenalkan dengan iringan musik detak jantung ibunya. Mengapa demikian? Musik sangat mempengaruhi kita secara psikologis dan dapat mengubah suasana batin kita. Musik jenis tertentu akan mewarnai kehidupan kita, begitu pula batin. Musik bisa membawa kita ke dalam suasana hidup yang lain, misalnya sedang sedih musik bisa menjadi penghibur atau malah sebaliknya menimbulkan perasaan jengkel dan menjadi beban pikiran, atau pada saat kita berdoa dengan khusuk yang diiringi dengan instrumental musik yang berbunyi anggun akan membuat kita lebih hikmat dalam berdoa.



Di dalam suatu pertemuan, musik juga dapat mempersatukan kelompok yang hadir saat itu. Kita bayangkan saja, jika di suatu pertandingan olahraga di TV, hati kita akan sangat tergugah bahkan bangga melihat dan mendengarkan pemain Indonesia yang menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh hikmat. Kita merasa tersentuh melihat mereka berjuang untuk Indonesia, apalagi saat mereka menyanyikan lagu kebangsaan dengan iringan yang gegap gempita bunyinya. Namun yang jelas bahwa kita hendaknya selalu lebih selektif terhadap apa yang kita dengar, apakah cocok atau tidak dengan yang kita inginkan.

Di dalam Gereja Katolik, musik mendapat peranan yang sangat penting khususnya dalam berliturgi. Tidak dapat dipungkiri lagi, liturgi sudah tidak dapat dipisahkan dari musik sejak dahulu, apalagi setelah Konsili Vatikan II yang sangat menganjurkan musik digunakan dalam perayaan-perayaan liturgi untuk mendukung kegiatan ibadat bahkan membuat upacara liturgi menjadi lebih agung apabila dirayakan dengan nyanyian meriah.

Untuk mendukung keagungan doa dan nyanyian umat maka diadakanlah alat musik untuk mengiringi doa dan nyanyian umat dalam perayaan-perayaan tersebut. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi ibadat lebih disarankan untuk menggunakan alat musik orgel pipa karena suaranya mampu memeriahkan upacara-upacara Gereja secara mengagumkan, dan dapat mengangkat hati Umat kepada Allah dan ke sorga. Walaupun demikian, itu masih harus tergantung dari kebjaksanaan dan persetujuan pemimpin gerejawi setempat yang berwenang tentang penggunaan alat-alat musik lain sejauh memang cocok atau dapat disesuaikan dengan penggunaannya dalam liturgi, sesuai pula dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh membantu memantapkan penghayatan Umat beriman.

Di masa modern ini, umat Katolik sangat merindukan doa yang sungguh penuh dengan penghayatan yang diiringi dengan alat musik. Di beberapa Gereja khususnya di kevikepan Toraja sudah memiliki alat musik organ dalam gerejanya (walaupun pemainnya sangat jarang). Di beberapa tempat khususnya pada kegiatan-kegiatan doa lingkungan banyak kelompok tertentu yang sering menyewa pemain musik organ untuk mengiringi ibadat doanya. Bahkan ada beberapa paroki yang biasa menyewa organis (pemain organ) untuk mengiringi perayaan-perayaan besar di paroki tersebut. Dengan latar belakang inilah, penulis ingin mengangkat sebuah argumentasi tentang iringan musik organ yang dapat mengangkat hati umat beriman dalam berliturgi sebagai sebuah kajian teori tentang Musik Liturgi yang sejati yang dapat membuat umat beriman mampu menghayati campur tangan Allah dalam perayaan Liturgi melalui musik yang dinyanyikan/bawakan. Untuk itu penulis memilih tema skripsi dengan judul: Iringan Organ dalam Perayaan Ekaristi Memberi Kekuatan pada Doa dan Nyanyian Umat Beriman.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Falsetto Smakam Choir (FSC)

Kini telah hadir paduan suara muda beranggotakan anak-anak remaja dari SMA Katolik Makale dengan jumlah anggota 25 orang (1 conduktor, 9 sopran, 5 alto, 4 tenor dan 5 bas). Paduan suara ini memakai nama "Falsetto Smakam Choir" (FSC). Secara etimologis kata "falsetto" sendiri merupakan nama dari teknik vokal yang berada di area head voice tetapi dibunyikan dengan cara halus dan lembut. Karena teknik bernyanyi  falsetto merupakan teknik andalan kelompok muda ini akhirnya dipakailah dia untuk menamakan paduan suara yang bersarang di SMA Katolik Makale. Berdirinya FSC tidak lepas dari beberapa faktor: pertama, pemikiran dari kepala sekolah (Ignasius Pabendon, Pr) untuk melaksanakan pendidikan berkarakter bagi siswa/i dengan cara melayani misa umat setiap minggu ke-empat di Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Makale. Kedua, adanya kegiatan lomba cipta lagu Mars Anti Narkoba yang diselenggarakan oleh BNN yang kemudian telah mengumpulkan beberapa siswa/...

Ternyata mebaca notasi angka itu mudah

Sebenarnya notasi angka diciptakan khusus untuk bina vokal karena lebih mudah dipahami dari pada notasi balok yang sangat sulit dipahami oleh kebanyakan orang. Untuk notasi balok perlu latihan khusus agar bisa memahami bunyi yang dilambangkan oleh masing-masing not. Maka dari itu, kebanyakan dari buku nyanyia umat Kristiani (Katolik, Protestan, Pantekosta, dsb.) dalam buku nyanyian yang digunakan semuanya memakai notasi angka. Contoh buku nyanyian umat Katolik yang memakai notasi angka: mis. Puji Syukur, Madah Bakti, Sulo Lalan, Singgi'na Mali', Madah Kasih, Jubilate, Exultet, Kidung Syukur, dsb. (Edith Marcellus Ringan)

A. Angka-Angka dalam Notasi Angka

Notasi musik ini menggunakan angka-angka untuk menunjukkan tinggi atau rendah dari bunyi suatu nada yang disimbolkan. Berawal dari angka 1 hingga angka 7 yang menunjujukkan simbol dari nada rendah ke nada tinggi. Jadi, angka-angka yang digunakan adalah:   1,  2,  3,  4,  5,  6, dan 7.